Foto Kegiatan

Minggu, 22 Juli 2012

BAHASA WARIA


BAHASA GAUL  WARIA DI DESA MADURAN KECAMATAN MADURAN KAB. LAMONGAN: SUATU TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK

OLEH : RASMIAN, 2012
A.    PENGANTAR
Salah satunya adalah   komunitas  yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini adalah komunitas waria.  Suatu  komunitas  dapat  memunculkan  variasi bahasa. Hal tersebut berlangsung untuk tujuan  memudahkan  komunikasi diantara anggota komunitas tersebut. 
Komunitas  waria tergolong unik. Banyak orang yang tidak mengerti dan paham tentang bahasa komunitas ini kecuali komunitas waria itu sendiri.
Kehidupan  sosial  pada  dasarnya  adalah  interaksi  manusia  dengan menggunakan  simbol. Pernyataan tersebut sesuai dengan kenyataan karena dalam setiap kita  berinteraksi  disadari maupun tidak, tersirat simbol yang mewakili diri seperti, cara berbicara, dialek yang digunakan, intonasi dalam menekankan  kata  yang  diucapkan  dan   gaya  berpakaian.  Semua  simbol tersebut merepresentasikan sesuatu              yang  dimaksud           oleh     seorang komunikator.
Simbol  atau  lambang  yang  digunakan  merupakan  hasil  kesepakatan bersama  untuk  menunjukkan  sesuatu  misalnya,  kata  duta  bagi  kaum waria berarti uang, dan kata “cumi-cumi”  berarti cium.
Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut kiranya penulis tertarik untuk meneliti dengan judul “Bahasa Gaul  Waria di Desa Maduran Kecamatan Maduran Kab. Lamongan: Suatu Tinjauan Sosiolinguistik”
Masalah yang akan diungkapkan dalam makalah ini adalah
1. Bagaimana pola pembentukan variasi kosa kata yang dipergunakan waria di Desa Maduran, Kec. Maduran, Kabupaten Lamongan?
2. Apakah       makna  kosa     kata     yang    dipergunakan  waria   di Desa Maduran, Kec. Maduran, Kabupaten Lamongan?
3. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa gaul waria di Desa Maduran, Kec. Maduran, Kabupaten Lamongan?
4. Apakah fungsi penggunaan bahasa gaul waria di Desa Maduran, Kec. Maduran, Kabupaten Lamongan?
B.     RAGAM BAHASA
1.      Pengertian Ragam Bahasa
Bahasa  dalam  lingkungan  sosial  masyarakat  satu  dengan  yang  lainnya berbeda.  Adanya  kelompok-kelompok  sosial  tersebut  menyebabkan  bahasa  yang dipergunakan beragam. Keragaman bahasa ini timbul sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang  digunakan agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya.  Oleh  karena  itu,  ragam  bahasa  timbul  bukan  karena  kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan disebabkan oleh kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam.
Dalam ragam bahasa setidaknya terdapat tiga hal, yaitu pola-pola bahasa yang sama,  pola-pola bahasa yang dapat dianalis secara deskriptif, dan pola-pola yang dibatasi oleh makna  tersebut dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi. ragam bahasa juga dapat dilihat dari  enam segi, yaitu tempat, waktu, pengguna, situasi,  dialek  yang  dihubungkan  dengan  sapaan,  status,  dan  penggunaan  ragam bahasa (Pateda dalam Chaer, 1987: 52).
Sementara itu Kridalaksana (2009:206) menjelaskan ragam bahasa sebagai variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topic yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara dan orang yang dibicarakan dan menurut medium pembicaraan.
2.      Jenis Ragam Bahasa
Dalam pandangan sosiolinguistik, bahasa tidak saja dipandang sebagai gejala individual, tetapi merupakan gejala sosial. Sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor linguistik, tetapi juga oleh faktor-faktor nonlinguistik.Faktor-faktor nonlinguistik yang mempengaruhi pemakaian bahasa, yaitu faktor-faktor sosial: status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dsb.
Faktor-faktor situasional : siapa berbicara dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa. Jadi, penyebab terjadinya variasi bahasa, yaitu faktor-faktor sosial dan faktor-faktor situasional.
Chaer  dan    Agustina (2004:62)     membedakan variasi bahasa, antara lain: a) segi penutur, b) segi pemakaian, c) keformalan, d) segi sarana.
Dalam makalah ini hanya dibahasa variasi bahasa dilihat dari segi penutur. Variasi bahasa dari segi penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu dan variasi bahasa dari sekelompok individu yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat/wilayah atau area (idiolek dan dialek).
Idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu(dialek areal, dialek regional, dialek geografi).
Kronolek atau dialek temporal merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu, misalnya variasi bahasa pada masa tahun tiga puluhan. Sosiolek/dialek sosial adalah  variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya:a) akrolek, b) kolokial, c) basilek,  d)jargon, e) vulgar,  f) argot, g) slang, h) ken.
Bahasa  Slang  oleh  Kridalaksana  (2009:225)  dirumuskan  sebagai  ragam bahasa yang  tidak resmi digunakan oleh kaum remaja, serta waria atau kelompok sosial tertentu untuk  komunikasi intern sebagai usaha orang di luar kelompoknya tidak mengerti, berupa kosa kata yang serba baru dan berubah-ubah.
Slang digunakan  sebagai  bahasa  pergaulan.  Kosakata  slang  dapat  berupa pemendekan kata, penggunaan kata diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah.  Disamping   itu   slang  juga  dapat  berupa  pembalikan  tata  bunyi, kosakata yang lazim digunakan di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya dipertegas lagi kedalam bentuk.
Pada mulanya pembentukan bahasa slang, prokem, cant, argot, jargon, dan colloquial di dunia ini adalah berawal dari sebuah komunitas atau kelompok sosial tertentu yang berada di kelas  atau golongan bawah (Alwasilah, 2006:29).

3.      Ragam Bahasa Gaul Waria
Bahasa gaul sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 1980-an tetapi pada waktu itu  istilah bahasa prokem (okem). Lalu bahasa tersebut diadopsi kemudian dimodifikasi   sedemikian   unik   dan   digunakan   oleh   orang-orang   tertentu   atau kalangan-kalangan tertentu saja. Pada awalnya bahasa prokem digunaakan oleh para preman yang kehidupanya dekat dengan kekerasan, kejahatan, narkoba, dan minuman keras.  Banyak  istilah-istilah  baru  yang  mereka  ciptakan   dengan  tujuan  agar masyarakat awam atau orang luar komunitas mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan atau yang telah mereka bicarakan. Mereka merancang kata-kata baru, mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Pergaulan di kalang waria  mengenal apa yang disebut dengan budaya teman sebaya (peer culture). Kelompok waria yang sebaya itu umumnya mempunyai nilai serta karakteristik budaya  yang bebeda atau bahkan bertentangan dengan budaya orang lain. Dalam upayanya memisahkan diri dari budaya lingkungan sekitar, mereka membuat budaya tandingan, budaya yang khas waria (Alatas, 2006:59). Budaya khas waria ini kemudian menciptakan sebuah bahasa yang biasa  digunakan oleh kaum waria untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Bahasa tersebut kemudian  disebut dengan bahasa gaul, sesuai dengan pengertian awalnya yakni bahasa yang digunakan untuk berteman dan bersahabat di tengah masyarakat (KBBI,2008:296). Di kalangan waria sendiri kata ‘gaul’ ini memiliki prestise atau penilaian yang tinggi.
Seseorang waria akan dikatakan gaul apabila ia memiliki sifat yang menarik, dan pergaulan yang luas. Jadi, seorang waria pasti akan merasa bangga apabila predikat ‘anak gaul’ dilekatkan padanya. Menurut Wikipedia Indonesia “Bahasa gaul merupakan bentuk ragam bahasa yang  digunakan  oleh  penutur  remaja,  waria  untuk  mengekspresikan  gagasan  dan emosinya.”  Perkembangan teknologi informasi turut mendistribusikan penggunaan bahasa  gaul  ke  lingkup   yang  lebih  luas.  Media  komunikasi,  khususnya  yang membahas mengenai waria, dalam mengkomunikasikan informasi juga menggunakan bahasa gaul yang sedang menjadi trend atau  populer di kalangan remaja sampai waria. Dewasa ini, bahasa gaul mengalami pergeseran fungsi  dari bahasa rahasia menjadi bahasa gaul.
Pengujar bahasa  gaul  umumnya  adalah  para  remaja,  kaum  selebritis  dan waria.
C.     BAHASA GAUL WARIA PEMILIK SALON CANTIK DI DESA MADURAN, KECAMATAN MADURAN, KABUPATEN LAMONGAN.
1.      Data Bahasa Gaul Waria
Pada bagian ini di deskripsikan bahasa gaul waria yang dibentuk  berdasarkan 1) kata umum yang diberi makna khusus, 2) kata yang ditambahi suku kata tertentu, atau dikurangi, 3) pembentuakan kata tidak berpola atau berpola mana suka, pembentukan kata dengan cara mengumah bunyi suku kata akhir.
a.       Pembentukan Bahasa Waria dari Kata Umum yang Diberi Makna Khusus
Yang dimaksud kata umum dalam bagian ini adalah kata-kata yang lazim dipakai dalam pergaulan masyarakat pada umumnya, baik itu dari kelompok bahasa baku maupun nonbaku. Kosa kata tersebut digunakan oleh masyarakat nonwaria dalam berbagai komunikasi.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan waria pemilik salon Catik Desa Maduran, Kec. Maduran, Kab. Lamongan diperoleh kosa kata berikut ini.
Tabel 1 Data Pembentukan Bahasa Waria dari Nama Kota yang Diberi Makna Khusus
NO
KOSA KATA BAHASA GAUL WARIA
MAKNA
1
tuban
tua
2
lumajang
lumayan
3
malaysia
malas
4
maluku
malu
5
makasar
makan

Berdasarkan table 1  diperoleh informasi bahwa bahasa gaul waria dapat dibentuk dari bahasa yang dipakai oleh masayakat pada umumnya akan tetapi bahasa tersebut diberi makna yang berbeda dari makna sebenarnya. Berdasarkan tebel di atas pembentukan bahasa waria diambil dari nama kota dan nama negara. Hal tersebut dapat dilihat dari kata Tuban, Lumajang, Maluku, Makasar dan Malaysia. Nama-nama kota dan Negara tersebut diberi makna khusus oleh waria. Disebut sebagai makna khusus sebab makna ini hanya diketahui oleh komunitas waria saja.
Hubungan antara  kata dan makna kata. Hubungan tersebut terlihat dari bentuk kata Tuban yang dimaknai ‘tua’. Makna tua berasal dari kata Tuban yang dihilangkan konsonan /b/ dan /n/ sehingga menjadi ‘tua’. Hubungan seperti ini juga terlihat dalam kata Maluku yang dimaknai ‘malu’, Malaysia yang dimaknai ‘malas’. Hubungan kata Lumajang dengan makna ‘lumayan’  terjadi karena kemiripan pengucapan kedua kata tersebut. Sebab konsonan /j/ pada kata Lumajang secara fonologi memiliki kedekatan dengan konsonan /y/ pada kata lumayan. Selain itu terdapat konsonan /n/ pada kata lumayang yang secara fonologis juga dekat dengan konsonan /ng/ pada kata Lumajang. Sedangkan hubungan makna kata Makasar dengan makna ‘makan’ jerjadi mirip dengan data kata Tuban dengan makna ‘tua’ tetapi deng penamban konsonan /n/.
Tabel 2 Data Pembentukan Bahasa Waria dari Kata Umum yang Diberi Makna Khusus
NO
KOSA KATA BAHASA GAUL WARIA
MAKNA
1
minimal
Minum
2
potret
Potong
3
pelita jaya
Pelit
4
cumi-cumi
Mencium
5
bendahara
BH
6
jula-juli
Berjualan
7
duka lara
Dukun
8
lambada
lambat sekali
9
candra kirana
cantik
10
elmatiana
Jelek
11
Sipilis
Silahkan
12
tangki minyak
terima kasih
13
motorola
motor/ sepeda motor
14
kencur
Mencuri
15
jreng
Enak
16
belalang
Beli
17
Sipilis
Berapa
18
Mawar
Malu
19
Ani-ani
Anak
20
Reksona
Rokok
21
Blorong
Nenek
22
Gembala
Gemuk
23
mana suka
Sedang santai
24
Prematur
Orang nakal
25
Duta
Uang
26
Sutra
Sudah
27
Mandala
Mandi
28
Gilingan
Gila
29
Ramayana
Ramai
30
Kelinci
Kecil

Kosa kata pada tebel 2 diperoleh dari bahasa Indonesia merupakan kosa kata nama benda, nama binatang, nama tumbuhan, nama penyakit, nama usaha, dan nama pekerjaan. Sebagai contoh kelinci, belalang dan cumi-cumi merupakan nama binatang, kencur merupakan nama tumbuhan, sipilis adalah nama penyakit, Ramayana merupakan nama toserba sebagai nama usaha, nama pekerjaan diwakili kata bendahara, Motorola merupakan nama merk telepon genggam.

b.      Pembentukan Bahasa Gaul Waria dari Kata Tertentu dengan Cara Menambahkan Suku Kata Tertentu.
Tabel 3 Data Pembentukan Bahasa Waria dari Kata Terentu dengan Cara Menambahkan Suku Kata Tertentu
Kosa Kata Waria
Makna
Apase
Apa
Simatria
Mata
Sepiring
Sepi
Sigan
Ganteng atau tampan
Siban
Banci. Waria
Siben
Bento/gila
Silem
Lemas/lunglai

Berdasarkan table 3, pembentukan bahasa gaul waria dapat dilakukan dengan cara menambah suku kata tertentu dari kata asal. Hal ini terlihat dari data kata apase yang diberi makna ‘apa’, simatria yang diberi makna ‘mata’, sepring yang dimaknai ‘sepi’. Apase berasal dari kata apa + se, simatria berasal dari kata mata + si+  tri., sepiring berasal dari kata sepi + ring.
Sedangkan pada kata sigan, siban, siben, silem, pola pembentukan kata tersebut berbeda denngan pola kata apase, simatria, dan sepiring. Pola pembentukan kata sigan, siban, siben, silem adalah dengan cara mengambil suku kata awal ditambah dengan  ‘ si’ yang ditempatkan di awal.
c.       Pembentukan Bahasa Gaul Waria yang Tidak Berpola atau Berpola Mana Suka
Tabel 4 Data Pembentukan Bahasa Gaul Waria yang Tidak Berpola atau Berpola Mana Suka
Kosa Kata Waria
Makna
Reong
Merayu
Dendong
Berdandan/bersolek
Sinangse
Tangis/ menangis
Silamse
Bibir
Sierwati
Bibir
Peres
Berbohong
Sigeng
Kekasih
Penyeyon
Penyanyi
Singurse
Pengamen
Sisal
Perias
Palola
Pelacur
Perayangan
Parah sekali
Seso
Mimic
Brondong
Lelaki
Pecuang
Perempuan
Siron wati
Janda
Pecongan
Pacaran
Rumbes
Rumah
Cucok
Cakep/ ganteng
Capcus
Cepat
Sigetwati
Besar
Ora sipa
Tidak laku
Sireswati
Bersih
Wekong
Rambut palsu
Ketrina
Ketiak
Sitangse
Tangan
Akikah
Aku/saya
Kemos
Kamu
Limang sepol
Lima puluh
Sislah
Dua puluh lima
Silak
Senggama
Siseh
Seribu
Gombreng
Homoseksual
Luntin
Alat kelamin laki-laki
Sibut
Suami
Tintus
Tidak mau
Tawara
Mengtahui/tahu
Berdasarkan tebel 4 di atas, bahasa gaul waria dibentuk dengan pola mana suka. Artinya tidak kata-kata tersebut tidak ditemukan dalam bahasa tertentu dan merupakan bahasa bentukan baru. Bentuk bentuk di atas diciptakan oleh komunitas dengan tujuan komunitas lain tidak memahmi komunikasi yang dilakukan oleh monunitasnya.
d.      Pembentukan Bahasa Gaul Waria denga Cara Mengubah Bunyi Akhir Kata
Tabel 5 Data Pembentukan Bahasa Gaul Waria denga Cara Mengubah Bunyi Akhir Kata
Kosa Kata Waria
Makna
Berapo
Berapa

Berdasarkan table 5, diperoleh informasi bahwa pembentukan bahasa gaul waria dapat dilakukan dengan cara mengambil kata dalam bahasa Indonesia dan mengubah bunyi akhir kata yang diambil  dengan bunyi tertentu.

e.       Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa gaul waria di Desa Maduran, Kec. Maduran, Kabupaten Lamongan.
Bahasa  adalah   suatu   sistem   lambang   berupa   bunyi,   bersifat   arbitrer, digunakan  oleh  suatu  masyarakat  tutur  untuk  bekerjasama,  berkomunikasi,  dan mengindentifikasi diri  (Chaer, 2004:1). Hal ini memberi gambaran bahwa bahasa adalah berupa bunyi yang digunakan  oleh rnasyarakat untuk berkornunikasi.
Bahasa didefinisikan sebagai sebuah bentuk komunikasi. Pandangan ini ingin memperlihatkan bagaimana  bahasa bekerja dalam sistem masyarakat.  Dalam sistem kemasyarakatan orang berbahasa itu untuk tujuan apa, apa maksudnya, apa sasarannya. Demikian halnya dengan komunitas waria. Ia menggunakan bahasa tersebut untuk kepentingan komunikasi dengan kelompoknya.
          Berdasarkan table 1, 2, 3, 4, 5 di atas diperoleh informasi bahwa bahasa waria tersebut merupakan bahasa yang dekat dengan kegiatan aktivitas seksualitas.  Hal tersebut sangat wajar sebab waria memiliki kebiasaan  selalu bertingkah polah dihadapan lelaki  dengan memamerkan aurat dan keindahannya.
Dengan demikian factor yang mempengaruhi penggunaan bahasa tersebut adalah sebagai alat  mengungkapkan identifikasi komunitas waria, karenanya memberikan identitas dan rasa solidaritas pada kelompok waria.

f.       Apakah fungsi penggunaan bahasa gaul waria di Desa Maduran, Kec. Maduran, Kabupaten Lamongan
          Menurut Haliday(1970,1973) dalam Leech fungsi  bahasa sebagai berikut. Fungsi pertama  bahasa idesional: bahasa  berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan dan menginterpretasi pengalaman dunia. Fungsi ini dibagi menjadi fungsi eksperensial dan logical. Fungsi kedua adalah Fungsi interpersonal: bahasa befungsi sebagai pengungkapan sikap penutur dan sebagai pengaruh pada sikap dan perilaku peturur. Sedangkan fungsi ketiga adalah fungsi tekstual bahasa: bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengontruksi atau menyusun  sebuah teks.
          Sebagaimana dikemukanan di bagian atas bahasa waria dipengaruhi oleh faktor identifikasi komunitas waria. Oleh karenanya fungsi  bahasa gaul waria untuk membentuk identitas dan rasa solidaritas pada kelompok waria. Selain itu bahasa gaul tersebut sebagai alat pengungkapan aktivitas seksualitas waria.

2.      Analisis Data
Berdasarkan uraian di atas dapat digambarkan bahwa terdapat empat pola pembentukan kosa kata bahasa gaul waria yaitu:
a.       Pembentukan Bahasa Waria dari Kata Umum yang Diberi Makna Khusus
b.      Pembentukan Bahasa Gaul Waria dari Kata Tertentu dengan Cara Menambahkan Suku Kata Tertentu
c.       Pembentukan Bahasa Gaul Waria yang Tidak Berpola atau Berpola Mana
d.      Suka Pembentukan Bahasa Gaul Waria dengan Cara Mengubah Bunyi Akhir Kata
Hasil penelitian tersebut menunjukkan, bahasa yang digunakan oleh kaum waria adalah a).bahasa umum yang biasa dipergunakan oleh masyarakat, namun kaum waria lebih mengembangkan bahasa umum tersebut seperti merubah makna dari kata-kata yang telah ada dan menjadi pelesetan-pelesetan, b) bahasa umum yang biasa dipergunakan oleh masyarakat, namun kaum waria lebih mengembangkan bahasa umum tersebut dengan cara menambahi suku kata tertentu, atau mengubah bunyi akhirnya c) bahasa yang diciptakan secara khusus tanpa mengadopsi bahasa yang biasa digunakan oleh masyarakat.
Ditinjau dari sudut pandang semantik, bahasa gaul waraia memiki  makna yang berbeda dengan makna dari kata yang sesungguhnya.
Factor yang mempengaruhi penggunaan bahasa tersebut adalah sebagai alat  mengungkapkan identifikasi komunitas waria, karenanya memberikan identitas dan rasa solidaritas pada kelompok waria. Sedangkan fungsi bahasa gaul waria adalah untuk membentuk identitas dan rasa solidaritas pada kelompok waria. Selain itu bahasa gaul tersebut sebagai alat pengungkapan aktivitas seksualitas waria.
D.    SIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat digambarkan bahwa terdapat empat pola pembentukan kosa kata bahasa gaul waria yaitu:
a.       Pembentukan Bahasa Waria dari Kata Umum yang Diberi Makna Khusus
b.      Pembentukan Bahasa Gaul Waria dari Kata Tertentu dengan Cara Menambahkan Suku Kata Tertentu
c.       Pembentukan Bahasa Gaul Waria yang Tidak Berpola atau Berpola Mana
d.      Suka Pembentukan Bahasa Gaul Waria dengan Cara Mengubah Bunyi Akhir Kata
Hasil penelitian tersebut menunjukkan, bahasa yang digunakan oleh kaum waria adalah a).bahasa umum yang biasa dipergunakan oleh masyarakat, namun kaum waria lebih mengembangkan bahasa umum tersebut seperti merubah makna dari kata-kata yang telah ada dan menjadi pelesetan-pelesetan, b) bahasa umum yang biasa dipergunakan oleh masyarakat, namun kaum waria lebih mengembangkan bahasa umum tersebut dengan cara menambahi suku kata tertentu, atau mengubah bunyi akhirnya c) bahasa yang diciptakan secara khusus tanpa mengadopsi bahasa yang biasa digunakan oleh masyarakat.
Bahasa gaul yang digunakan dalam komunitas waria memiliki makna yang berbeda dengan makna dari kata yang sesungguhnya. untuk membentuk identitas dan rasa solidaritas pada kelompok waria.
Faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa tersebut adalah sebagai alat  mengungkapkan identifikasi komunitas waria, karenanya memberikan identitas dan rasa solidaritas pada kelompok waria. Sedangkan fungsi bahasa gaul waria adalah untuk membentuk identitas dan rasa solidaritas pada kelompok waria. Selain itu bahasa gaul tersebut sebagai alat pengungkapan aktivitas seksualitas waria.

Analisis Moralitas Novel Sang Alkemis


ASPEK MORALITAS DALAM NOVEL SANG ALKEMIS KARYA PAULO COELHO
Ditulis Oleh Rasmian, email :riasmian71@gmail.com

A.    Pengantar
Karya sastra ditulis sebagi sarana menyampaikan gagasan kepada pembaca. Hal tersebut disebabkan karya sastra terkandung mengandung nilai makna. Sebab sastra selalu menggunakan media bahasa sebagai alat penyampai pesan. Sastra sebagai sasrana komunikasi berarti sastra merupakan media berkumunikasi antara penulis denga penikmatnya. Apa yang ditulis sastrawan di dalam karya sastranya adalah apa yang ingin diungkapkan sastrawan kepada pembacanya. Selanjutnya, sastrawan dalam menyampaikan idenya tidak bisa dipisahkan dari latar belakangnya dan lingkungannya
Gagasan dalam sastra terutama sastra berbentuk cerita disampaikan melalui tokoh cerita. Tokoh cerita, menurut Abrams (1981) dalam Nurgiyantoro (2005:165) adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkamn memiliki kualitas moral.
Tokoh dalam cerita mengandung unsur nilai tertentu. Tokoh-tokoh cerita ditampilakan dengan jalan diberi watak tertentu yang mencerminkan sikap pengarang dalam kehidupan sehari hari. Dengan demikian tokoh ditampilakan untuk menyampaikan nilai-nilai tertentu dalam masyarakat secara imajinatif.
Nilai moral merupakan nilai dalam kehidupan manusia yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan. Nilai moral dapat menetukan seseorang dikatakan baik atau buruk. Nilai moral akan dapat menuntun manusia hidup di jalan yang benar.
Novel Sang Alkemis merupakan salah satu novel terjemahan yang mengandung nilai moral tinggi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengaji novel tersebut.
Berdasarkan hal tesebut penulis akan menganalisis novel tersebut dari aspek moralitas.

B.     Aspek Moralitas
Secara etimologis, kata moral  berasal dari kata  mos dalam bahasa  Latin, bentuk  jamaknya  mores,  yang  artinya  adalah  tata-cara  atau  adat-istiadat.  Dalam Kamus Besar Bahasa  Indonesia (2008: 592), moral diartikan sebagai akhlak, budi pekerti, atau susila. Secara terminologis, terdapat berbagai rumusan pengertian moral, yang  dari  segi  substantif  materiilnya  tidak  ada   perbedaan,  akan  tetapi  bentuk formalnya berbeda.  
Bertens (2005:143-147) mengemukakan bahwa moral berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggung jawab. Artinya ia bisa mengatakan salah atau tidak bersalah karena ia merasa bertanggung jawab. Nilai moral terkandung unsur imperative atau memerintah. Artinya jika kita memiliki keinginan menolong orang berarti kita telah diperintah moral menolong dalam diri kita. Dengan demikian nilai moral mengikutkan nilai-nilai lain dalam tingkah laku.
Sebagaimana dikenal dalam kajian tentang  macam-macam norma,  dikenal adanya  empat  macam  norma,  yaitu  norma  keagamaan,  norma  kesusilaan,  norma kesopanan, dan norma hukum.  Norma kesusilaan itu lebih bersumber pada prinsip- prinsip  etis  dan  moral  yang  bersifat   Objektivistik-universal.  Sedangkan  norma kesopanan  itu bersumber  pada  prinsip-prinsip  etis  dan   moral  yang  bersifat relativistik-kontekstual.  Sejalan dengan hal ini, Widjaja (1985: 154) mengemukakan bahwa persoalan moral dihubungkan dengan etik membicarakan tentang tata susila dan  tata  sopan  santun.  Tata  susila  mendorong  untuk  berbuat  baik,  karena  hati kecilnya  mengatakan baik, yang dalam hal ini bersumber dari hati nuraninya, lepas dari hubungan dan pengaruh orang lain. Tata sopan santun mendorong untuk berbuat baik,  terutama  bersifat  lahiriah,  tidak  bersumber  dari hati  nurani,  untuk  sekedar menghargai orang lain dalam pergaulan. Dengan  demikian tata sopan santun lebih terkait dengan konteks lingkungan sosial, budaya, adat istiadat dan sebagainya.
Moral  dalam karya sastra  merupakan sesuatu yang igin disampaikan pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam karya sastra, makna yang disaratkan lewat cerita. Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak semua tema merupaka moral Kenny dalam Nurgiyantoro (2005: 320). Moral merupakan pandangan pengarang tentang nilai-nilai kebenaran dan pandangan itu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Hasbullah (2005: 194) menyatakan bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi orang itu, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar.
Uzey (2009:2) berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia. Moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.
Senada dengan hal di atas Nurgiayantoro (2010:321) mengemukakan bahwa karya fiksi senantiasa menawarkan pesan moral yang   berhubungan dengan sifat-siafat luhur kemanusian, memperjuangkan hak dan martabat manusia.

C.    Aspek Moralitas Novel Sang Alkemis
Pembicaraan mengenai moralitas dalam novel San Alkemis ini akan hanya dibatasi pada tokoh Santiago saja. Hal tersebut dengan pertimbangan bahawa Santiago merupakan tokoh utama dalam novel ini.  
Dalam Sang Alkemis, Santiago digambarkan sebagai sosok anak gembala yang memiliki  mimpi. Mimpi yang di maksud di sini adalah cita-cita. Untuk mencapai cita-citanya ia berani mengambil resiko, konsisten, dan ulet.
Gambaran tentang cita-cita Santiago terdapat dalam kisah Santiago ingin menjadi penggembala seperti kisah dalam buku yang pernah dibacanya, dan keinginan Santiago mengejar harta karun di Piramida setelah ia bermimpi mendapat harta karun dalam perjalanan penggembalaan.
Penggalan berikut ini menunjukkan hal tersebut.
Ia adalah seorang anak yang berkeinginan  mengetahui  dunia  dan  menganggap  bahwa  seminari  tidak  akan membantunya dalam mempelajari Tuhan beserta dosa-dosa manusia, sebagaimana kutipan berikut
Dia pernah  belajar bahasa Latin, Spanyol  dan  teologi. Akan tapi sejak kanak-kanak,   dia   sudah   ingin  tahu  tentang  dunia,  dan   ini  jauh  lebih   penting  baginya  daripada mengetahui Tuhan  dan  mempelajari dosa-dosa manusia. Suatu siang, saat mengunjungi keluarganya,  dia  memberanikan diri  mengatakan kepada ayahnya   bahwa  dia tidak ingin jadi pastur. Bahwa dia ingin berkelana”(Coelho, 2011:14).
Kutipan di atas menunjukkan keingin Santiago yang sangat kuat, yang dalam bahasa lain dapat dikatakan sebagai ulet.  Keinginan  Santiago  inilah  yang   menyebabkan  ia  menjadi  seorang  gembala. Walaupun   sejak  kecil  ia didik agar  dapat  menjadi  seorang  pendeta  dan mengangkat derajat keluarganya, lebih memilih menjadi pengembara dengan cara menggembalakan domba, dengan harapan ia dapat mengetahui dunia seperti yang ia inginkan sejak kecil. Suatu ketika ayahnya menjelaskan padanya bahwa dimana pun  dan  apapun  di  dunia  ini  sebenarnya  sama  saja.  Namun  bagi  Santiago, keinginannya untuk melihat dunia di luar tanah kelahirannya, adalah lebih penting dari  apapun,  dan  hal  tersebut  adalah  yang  terbaik  baginya  untuk  menjalani kehidupannya.  Adu  argumen  yang  terjadi  antara  Santiago  dan  ayahnya  menurut penulis merupakan cara Santiago agar keinginannya dapat terpenuhi. Dan ia berhasil.
Data lain yang menunjukkan keingin yang sangat kuat dalam diri Santiago digambarkan pada kisah ketika Santiago ingin bermimpi mencapai Piramida di Mesir. Untuk sampai ke sana Santiago harus menjual domba-dombanya, sebagaimana kutipan ini ’’Domba-dombaku yang lain langsung dibeli oleh temanku”( Coelho, 2011:38-39).
Di perjalanan ia harus kehilangan uangnya karena di rampok. Namun demikian ia tidak patah semangat. Ia kemudian bertemu dengan penjual Kristal dan bekerja di toko Kristal selama hampir satu tahun. Ia harus menjalankan misinya untuk sampai di Mesir. Kali ini ia berhadapan dengan padang pasir yang laus dan budaya yang berbeda dengan budaya negerinya. Toh akhirnya ia dapat melaluinya.
Bahwa tokoh Santiago dalam mengejar cita-citanya, ia melakukannya dengan cara berani mengambil resiko.  Hal tersebut digambarkan oleh pengarang melalui kisah Santiago menjadi pegawai di toko Kristal. Resiko yang dihadapi Santiago telah dijelaskan di muka bahwa di perjalanan menuju piramida ia harus menempuh perjalan yang cukup jauh. Di perjalan ia kehilangan uang, ia harus bekerja selama satu tahun di toko Kristal, ia harus melintasi padang pasir yang cukup luas, di padang pasir ia harus menerima anacaman kematian dari ketua suku.
Bahwa dalam mengejar cita-citanya Santiago menghadapinya dengan penuh kesabaran, sebagaimana petikan berikut “anak itu sudah hampir sebulan bekerja padasi pedagang Kristal, dia menyadari ini tidak cocok untuknya dan tidak bakal membutnya bahagia… tapi anak itu bertahan bekerja di sana” (Coelho, 2011:67)..
Anak dalamkutipan di atas adalah Santiago. Ia sebenarnya tidak betah  tinggal di toko Kristal itu. Hal tersebut ditunjukan oleh kata pekerjaan itu tidak cocok. Tapi dia tetap bertahan di sana. Pernyataan tersebut membuktikan dia sabar.
Kesabaran Santiago dalam menjalankan impiannya juga ditunjukkan pada peristiwa ia harus menyerahkan seluruh hasil kerjanya selama satu tahun kepada ketua suku di Padang pasir. Perhatikan petikan berikut ini, “kemudian sang alkemis mengambil kantong anak itu dan memberikan keping-keping mata uang emas di dalamnya kepada pimpinan  pasukan”( Coelho, 2011:179).. Santiago diam dan terus mengikuti perintah alkemis.  Tindakandiam yang dilakukan Santiago dalam kutipan tersebut menunjukkan bahwa dia adalah oaring yang sabar.
Apa pesan moral yang dapat diperoleh dari keingin Santiago tersebut? Nurgiyantoro (2005:322) mengungkapkan  bahwa pesan moral merupakan hikmah yang diperoleh oleh pembaca lewat sastra. Hikmah tersebut merupakan penafsiran pembaca. Setiap pembaca akan menafsirkan satu peristiwa sesuai dengan cara pandangnya.
Moralitas tidak hanya diartikan sebagai bagai norma baik dan buruk dalam arti yang sempit. Arinya jika seseorang mencuri berari tidak bermoral. Sebaliknya jika seseorang berbuat jujur berate ia bermoral. Moralitas juda dapat dipandang sebagi bentuk perilaku yang menunjukkan eksistensi diri seeorang. Eksistensi itu misalnya seseorang berbuat kebaikan kepada dirinya sendiri. Misalnya saja ia dapat mengtur irama hidupnya sehingga ia dapat menempatkan dirinya pada tataran kehidupan yang libih baik.
Dalam konteks tokoh Santiago, hal tersebut terlihat dari cita-cita Santiago menuju harta karun di piramida di Negara Mesisr. Dengan penuh kegigihan ia ingin mencapaihal itu. Cita-tita Santiago tersebut  merupan upaya menempatkan dirinya untuk mencapai kehidupanya yang dianggapnya lebih baik.
Dalam kisah di atas menurut hemat penulis, pesan moral yang disampaikan pengarang kepada pembaca adalah dalam kehidupan kita harus memiliki cita-cita atau impian. Dengan impian atau cita-cita maka kita akan hidup yang sebenarnya. Sebab dengan cita-cita kita akan bergerak untuk mencapainya. Hidup adalah aktivitas dan aktivitas dapat berjalan jika kita punya keinginan untuk mencapai aktivitas tersebut.

PENERAPAN HUKUM EPIK ALA AXEL OLRIX PADA HIKAYAT SULTANUL INJILAI



Membaca karya sastra lama Indonesia bagaikan menjelajah kebudayaan Indonesia di masa lalu. Dengan membaca sastra lama kita dapat menikmati kehidupan yang tergambarkan dalam sastra tersebut. Sebab karya sastra memang meefleksikan kehidupan di masanya.

Hikayat sebagai salah satu jenis sastra lama, juga demikian.  Dalam  hikayat yang istana sentris kita seakan menjelajah kehidupan di kerajaan tertentu yang tidak pernah kita alami dalam dunia saat ini.
Untuk memehami sastra terlebih dahulu kita harus memahami struktur sastra itu. Sebab  struktur sastra merupakan sebuah sistem yang mengandung gagasan pokok.  Sementara itu Axel Olrix dalam Dananjaja yang dikutip Sudikan (2001:72) menyatakan bahwa struktur atau susunan cerita prosa rakyat terkait dengan hukum-hukum yang sama yang olehnya disebut sebagai hukum epos. Hukum epos merupakan sesuatu yang superorganik yaitu sesuatu yang berada di atas cerita rakyat yang selalu mengendalikan para juru cerita.
Berdasarkan hal-hal tersebut makalah ini bertujuan mendeskripsikan hukum-hukum epos yang terdapat dalam Hikayat Sultanukl Injilai.

Untuk file lengkapnya silahkan download disini

COACHING DALAM PENDIDIKAN

A. Pendahuluan            Senin, 1 Februari 2021 merupakan hari bersejarah bagi pendidikan Indonesia. Pada hari itu Menteri Pendidikan dan K...